Rasulullah, saw. berkata kepada Umar r.a. : “Maukah aku beri tahukah kepadamu tentang sebaik-baik harta simpanan ?
Ia adalah wanita yang sholeh; apabila suami memandang kepadanya, maka dia merasa senang, jika suamimenyuruhnya, dia menaatinya, dan jika suaminya tidak ada, dia memelihara diri dan hartasuaminya.” (H.R.Abu Dawud) .
Gambaran seorang muslimah tetap kukuh di dalam batin dan hati nuranikita.
Itulah gambaran ideal bagi perilaku wanita muslim, yang kepemimpinannya
terhadap keluarga tampak dalam memikul tanggung jawab. Dia di dalamrumah
suaminya sebagai pemimpin dan penanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.
Sesungguhnya, hubungan dia dengan suaminya adalah berlandaskan saling
mencintai, kasih sayang, pengutamaan orang lain, pemberian, pengorbanan, dan pembelaan.
Cukuplah sebagai pengakuan atas keutamaannya, bahwa hati pertama yang mendenyutkan Islam dan diteranginya adalah hati seorang wanita yang luhur budi dan mulia, iaitu Khadijah binti Khuwailid r.a., isteriRasulullah,saw. ,
setelah itu tidak ada yang melebihinya dalam hal memuliakan danmengangkat derajat wanita dalam Islam.
Tatkala Rasulullah saw. mengalami rintangan dan gangguan dari kaum Quraisy, maka di samping beliau berdirilah Khadijah, r.a. Khadijah juga menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi RAsulullah,saw. sebelum beliau diangkat
menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’. Khadijah adalah wanitapertama yang beriman kepadanya ketika Nabi berdoa (memohon) kepada Rabbnya.
Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta, dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah,saw. bersabda : “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberikan apa-apa.”
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia”, yaitu Khadijah bin Khuwailid,r.a., Ummu Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan
suaminya dannmembantunya di waktu sebelum diangkat menjadi nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah, r.a. mendahului semua orang dalam beriman kepada risalah Rasulullah,saw., dan membantu beliau serta kaum muslimin dengan jiwa, harta dan keluarganya. Maka, Allah, swt. membalas jasanya terhadap agama dan
Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan, dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana diceritakan Rasulullah, saw. kepada Khadijah di masa hidupnya.
Ketika Jibril datang kepada Nabi, dia berkata : “Wahai, Rasulullah, inilah
Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau
minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Rabbnya
dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga dari mutiara
yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR.Bukhari]
Bukankah istana di surga lebih baik daripada istana-istana di dunia ?
Khadijah, r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang pertama yang beriman kepada Allah,swt. di bumi sesudah Rasulullah,saw. Khadijah membawa panji bersama Rasulullah,saw. sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafasnya yang terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah adalah pendukung Rasulullah, saw. sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepada beliau pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata
:”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa
utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekah, kemudian kembali kepadaku.”
Maka Nabi menceritakan kisahnya kepada Khadijah.
Khadijah berkata : “Gembira dan teguhlah wahai, putra pamanku. Demi Allah yang
menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau akan menjadi Nabi umat
ini.”
Rasulullah,saw. tidak mendapatkan darinya, kecuali peneguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya, dan dukungan bagi urusannya. Rasulullah, saw. tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankanurusannya. Demikian hendaknya wanita yang ideal itu.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah,swt. telah mengirimkan salam kepadanya.
Maka turunlah Jibril menyampaikan salam itu kepada Rasulullah,saw.
seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Rabbnya.”
Kemudian Rasulullah, saw. bersabda : “Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan
salamkepadamu dari Rabbmu.” Maka Khadijah, r.a. menjawab : “Allah yang
menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya ber-asal salam (kesejahteraan), dan
kepadaJibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”
Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para sahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin.Hal itu disebabkan sikap Khadijah pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Dan sesungguhnya Khadijah, r.a. merupakan nikmat Allah,swt. yang besar kepada Rasulullah,saw.
Khadijah r.a. mendampingi Rasulullah,saw. selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolongnya dengan harta dan jiwanya.
Rasulullah,saw. bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakanku. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengurniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.”
[HR. Imam Ahmad ].
wallahu ‘alam bisshowab.